KASUS PERMASALAHAN ANAK DI MEDIA MASSA

 

KASUS PERMASALAHAN ANAK DI MEDIA MASSA

            Salah satu berita yang sedang membuat geger dunia maya kali ini yaitu tentang pembunuhan. Saya mengangkat sebuah kasus yang terjadi 2 tahun yang lalu, yaitu tentang pembunuhan pelajar SD dan SMP yang terjadi di kawasan Ciracas, Jakarta Timur pada Minggu 11/02/2018.  Singkatnya, hal ini bermula dari korban dan pelaku yang  saling ejek di sosial media. Hal tersebut akhirnya membuat salah satu pihak merasa marah, dan suatu hari ketika korban (DK) dan (MR) sedang melintasi sebuah warung kopi, tiba-tiba sekelompok pemuda mencegat mereka. Mereka langsung menganiaya korban dengan menggunakan senjata tajam dan tumpul. DK tewas terlebih dahulu. Sementara MR melarikan diri, tetapi tewas di Jalan Puskesmas yang menjadi tempat kejadian perkara kedua.

      


            Jika dianalisis melalui konsep kepribadian, maka dapat kita ketahui bahwa pada kehidupan sosial, individu selalu dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya agar tetap eksis dan dapat mempertahankan hidupnya. Dalam kenyataannya, individu memang hidup di tengah masyarakat sebagai lingkungan sosialnya, sehingga tingkah lakunya tidak hanya merupakan penyesuaian diri sebagai lingkungan sosialnya, sehingga tingkah lakunya tidak hanya merupakan penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik, tetapi juga terhadap tuntutan dan tekanan sosial orang lain. Dalam kasus ini dapat terlihat dengan jelas, bahwa pelaku dalam kasus tersebut adalah seorang remaja. Remaja pada dasarnya berada dalam kondisi yang masih labil atau bisa dikatakan pemikirannya belum matang. Kondisi ini membuat mereka menjadi mudah berubah keadaan perasaan dan kejiwaannya, dari sedih berubah menjadi marah, sering marah-marah dikarenakan sesuatu yang tidak jelas, dan sikap-sikap lainnya.

            Ketika seorang remaja yang masih dalam keadaan labil tersebut dipantik oleh sebuah pacingan emosi, maka timbulah konflik antara tuntutan internal yang lain. Sesuai dengan kasus tersebut, antara kedua pelaku saling ejek dan tidak ada yang mau mengalah. Hal ini dilakukan mereka semata-mata agar mereka mendapatkan kepuasan tertentu.

Tantangan masa remaja adalah mencari identitas diri, bahwa seorang oemuda mempunyai banyak identitas yang dihubungkan dengan arti lain yang menempati dunia sosial mereka. Dalam kasus ini dapat kita ketahui bahwa baik pelaku dan korban mengalami kegagalan dalam melalui tantangan ini. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai macam bentuk pergolakan, seperti pembunuhan. Kegagalan ini dapat terjadi karena berbagai macam faktor, diantaranya pengaruh lingkungan pergaulan, didikan orangtua, dsb.

            Bagi individu yang gagal dalam mengatasi konflik tuntutan atau merasa tidak berhasil mencapai salah satu tujuan yang menjadi kebutuhannya, sering menyebabkan dirinya mengalami frustasi. Frustasi adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan, yakni suatu kondisi dimana individu mengalami kekecewaan yang mendalam akibat kegagalan tersebut. Dalam hal ini, terdapat alternatif solusi yang sering dilakukan individu dalam mengatasi frustasi tersebut, yakni solusi yang bersifat adaptif dan maladaptif.

            Dalam kasus ini, pelaku memilih solusi yang bersifat maladaptif, yakni jalan keluar yang ditolak oleh lingkungannya karena dipandang negatif serta mengkhawatirkan dapat mengganggu atau membahayakan lingkungannya. Pelaku menunjukkan perilaku agresi, dimana pelaku tersebut menyerang terhadap suatu obyek  yaitu korban secara dengan melakukan kekerasan secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

(https://megapolitan.kompas.com/read/2018/02/12/12560901/saling-ejek-di-media-sosial-3-remaja-tewaskan-pelajar-sd-dan-smp)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Teknologi Pendidikan

DAMPAK KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN YANG TERJADI DI INDONESIA